Selasa, 05 September 2023

SILSILAH KELUARGA LA DANE LA TUA

 SILSILAH DARI AYAH :

NAMA : LA DANE LA TUA bin LA TUA bin LA NAJIILA bin ...

ISTRI : NURLIANI ODE OBI BINTI LA ODE OBI 

ANAK : MUAHAMMAD ISMAIL, .....

SAUDARA KANDUNG : WA ARMI LA TUA, LA OMY LA TUA (Tommy), WA ULIANA, JIRIANA LA TUA, (LA DANE LA TUA), WA DINA LA TUA (CICI), JUMAIDIN LA TUA (JIDIN), WIRANTO LA TUA (ANTO).

SELANJUTNYA : 

- WA ARMI LA TUA menikah dengan MADON ROMPIS (Bitung, Sulawesi Utara) 

Anak : SAMSUL ROMPIS, VIRA SAFITRI ROMPIS, SARAH SAFITRI ROMPIS, AISYA SAFITRI ROMPIS, 

- LA OMY LA TUA menikah dengan : 

1. WA ICA (Wabula, Buton) : 

Nama Anak : LA FIKLIN

2. SUSI (Jawa Barat) : Anak 1 orang nama tidak di ketahui.

2. NURAIDA MBUKO (Tataba, Pulau Salakan) :

Anak : ALIF, AZZAM, 

4. Wanita Asal Sulawesi Tengah, nama tidak di ketahui.

- WA ULIANA menikah dengan MUNIR BANAPON (DESA BELO, PULAU TALIABU)

Anak :

- WA JIRIANAN LA TUA menikah dengan HAMIRUN (WABULA, BUTON dan kelahiran SORONG-PAPUA)

Anak : SELMIANA, SAHAJIDIN, HANAMIANA, 1 lagi nama tidak di ketahui.

- LA DANE LA TUA menikah dengan NURLIANI ODE OBI (ONEMAY-NGGELE, PULAU TALIABU)

Anak : MUHAMMAD ISMAIL (Abang IS), ...

- WA DINA LA TUA menikah dengan IRWAN (GAROJOU, HALMAHERA).

Anak : NABIL

- JUMAIDIN LA TUA menikah dengan

Anak :

- WIRANTO LA TUA menikah dengan

Anak :

====================================================================================

NENEK DARI AYAH : WA HAJI

WA HAJI mempunyai 2 suami di masa yang berbeda. Yakni :

Suami 1 : LA TALARE yang menurunkan anak sebagai berikut :

SAUDARA TIRI AYAH : WA SAHIRI, WA TUA, LA PUTI, dll (Ada sekitar 8 - 10 bersaudara tapi namanya penulis tidak tau).

Suami 2 : LA NAJIILA yang menurunkan anak sebagai berikut :

SAUDARA KANDUNG AYAH atau ANAK KETURUNAN DARI kakek & nenek LA NAJIILA & WA HAJI : H. WA RAMIISA, (LA TUA) WA AMINJARIA, WA BUA, LA ABUHARI.


NENEK DARI IBU : WA ABE

WA ABE memiliki 2 suami di masa yang berbeda sebagai berikut : 

Suami 1 : LA ONSO yang menurunkan anak :

- WA HALIMA ONSO

Suamu 2 : (NAMA TIDAK DI KETAHUI) yang menurunkan  anak :

- LA SANDIRI meninggal di NEGARA KERAJAAN MALAISYA. LA SANDIRI pernah menikah dan nama istri tidak di ketahui.

Anak : 1 nama tidak di ketahui

Catatan :

SILSILAH INI DI TULIS GUNA MENGENAL SAUDARA JAUH MAUPUN DEKAT, JIKA ADA YANG MEMILIKI HUBUNGAN KEKELUARGAAN DENGAN KAMI SERTA MENGETAHUI SILSILAH KERURUNAN DI BUTON DAN WAKATOBI, BISA LANGSUNG KONTAK NOMOR SAYA : 081253626798 / 082348219313.

SALING KENAL MENGENAL DAN BERSILATURAHMI ITU INDAH SAUDARAKU.

SALAM ASA BHARANGKA.



Jumat, 27 Mei 2022

Kerajaan Gowa-Tallo

 Kerajaan Gowa-Tallo; Ekspedisi Islam 

Oleh “Serambi Madinah” dari Timur (Bagian 1)



Sejarah Gowa tentu tidak dapat dipisahkan dengan Islam. Daerah ini menjadi salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang kini berpenduduk tidak kurang dari 600 ribu jiwa yang mayoritasnya adalah Muslim. Setelah Kerajaan Gowa-Tallo memeluk Islam, penyebaran Islam di Sulawesi dan bagian timur Indonesia sangat pesat. Kerajaan Gowa-Tallo berhasil menorehkan tinta emas sejarah peletakan dasar dan penyebaran Islam di bagian timur negeri ini. Kerajaan ini juga kerajaan yang menerapkan syariah Islam. Karena itu, wajar jika Gowa ini dikenal sebagai “Serambi Madinah”. Tulisan ini menyegarkan ingatan kita kembali tentang sejarah gemilang ini.


Awal Masuknya Islam


Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya tidak bisa membuka aktivitas perdagangan. Demikian pula dengan kedatangan Islam di Gowa. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh para pedagang dimungkinkan karena dalam ajaran Islam tidak dibedakan antara tugas keagamaan seorang Muslim, sebagai penyebar nilai kebenaran, dan profesinya sebagai pedagang. Setiap Muslim, apapun profesinya, pertemuan untuk menyampaikan ajaran Islam tentang satu ayat.


para pedagang Muslim sudah berada di Sulawesi Selatan sejak akhir Abad XV, baik dari sumber lokal maupun luar, tentang terjadinya konversi ke dalam Islam oleh salah seorang raja setempat pada masa itu, sebagaimana yang terjadi pada agama Katolik .


Agaknya inilah yang menjadi faktor pendorong para pedagang melayu undangan tiga orang mubalig dari Koto Tangah (Kota Tengah 1 ) Minangkabau ke Makassar untuk mengislamkan elit Kerajaan Gowa-Tallo. Inisiatif untuk sudah mubalig khusus ke Makassar ada sejak Anakkodah Bonang (Nahkodah Bonang 2 ). Ia adalah seorang ulama dari Minangkabau sekaligus pedagang yang berada di Gowa pada pertengahan Abad XVI (1525).


Keberhasilan penyebaran Islam terjadi setelah memasuki awal Abad XVII dengan kehadiran tiga orang mubalig yang bergelar datuk dari Minangkabau. 3 Lontara Wajo menyebutkan bahwa ketiga datuk itu datang pada asal Abad XVII dari Koto Tangah, Minangkabau. Mereka yang dikenal dengan nama Datuk Tellue (Bugis) atau Datuk Tallua (Makassar), yaitu: (1) Abdul Makmur, Khatib Tunggal, yang lebih populer dengan nama Datuk ri Bandang; (2) Sulaiman, Khatib Sulung, yang lebih populer dengan nama Datuk Patimang; (3) Abdul Jawad, Khatib Bungsu, yang lebih dikenal dengan nama Datuk ri Tiro.  


Ulama ketiga tersebut yang berasal dari Kota Tengah Minangkabau, diutus secara khusus oleh Sultan Aceh dan Sultan Johor untuk mengembangkan dan menyiarkan agama Islam di Sulawesi Selatan. Mereka terlebih dahulu mempelajari kebudayaan orang Bugis-Makassar, di Riau dan Johor, tempat orang-orang Bugis-Makassar berdiam. Sesampainya di Go, mereka memperoleh keterangan dari orang-orang Melayu yang tinggal di Gowa, bahwa raja yang paling dimuliakan dan adalah Datuk Luwu' , sedangkan yang kuat dan berpengaruh adalah Raja Tallok dan Raja Gowa. 4 


Graaf dan Pigeaud mengemukakan bahwa Datuk ri Banda sebelum ke Makassar lebih dulu belajar di Giri. Datuk ri Bandang dan teman-temannya, ketika tiba di Makassar, tidak langsung melaksanakan misinya, tetapi lebih dulu menyusun strategi dakwah. menanyakan kepada orang-orang Melayu yang sudah lama bermukim di Makassar tentang raja yang paling Mereka. Setelah mendapat penjelasan, mereka berangkat ke Luwu untuk menemui Datuk Luwu' , La Patiware Daeng Parabu . Datuk Luwu adalah raja yang paling keren, karena kerajaan dianggap kerajaan tertua dan tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. kedatangan datuk tellue mendapat sambutan hangat dari datuk luwu' ,La Patiware Daeng Parabu . 5 


Ekspedisi Islam oleh Kerajaan Gowa-Tallo'


Sejak agama Islam menjadi agama resmi di Gowa-Tallo', Raja Gowa Sultan Alauddin makin kuat kedudukannya. Sebab, beliau juga diakui sebagai Amirul Mukminin (kepala agama Islam) dan kekuasaan Bate Salapanga oleh qadhi , yang menjadi wakil raja untuk urusan keagamaan bahkan oleh orang-orang Makassar, Bugis dan Mandar yang telah lebih dulu memeluk agama Islam pada abad XVI. Sultan Alauddin dipandang sebagai pemimpin pulau di Sulawesi Selatan.


Cara pendekatan yang dilakukan oleh Sultan Alauddin dan Pembesar Kerajaan Gowa adalah mengingatkan persaudaraan lama antara Gowa dan negeri atau kerajaan yang takluk atau bersahabat yang bunyi antara lain: barangsiapa di antara kita (Gowa dan sekutunya atau daerah taklukannya) melihat suatu jalan kebajikan, maka salah satu dari mereka yang melihat itu harus menyampaikan kepada pihak lainnya. 6


Karena itu, dengan dalih bahwa Gowa sekarang sudah melihat jalan kebajikan, yaitu agama Islam, Kerajaan Gowa meminta kepada kerajaan-kerajaan taklukannya agar turut memeluk agama Islam. [Gus Uwik]


 


Catatan Kaki:


1 Zainal Abidin, Andi,Prof. Mr.DR, Sejarah Sulawesi Selatan (hal:228-231), Hasanuddin University Press, 1999


2 ibid


3 Sewang, Ahmad, Prof. DR. H. MA, Makalah “Empat Abad Islam di Sulawesi Selatan”, Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan, Pusat Kajian Islam Divisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar, 5-7 September 20007


4 Zainal Abidin, Andi,Prof. Mr.DR, Sejarah Sulawesi Selatan (hal:228-231), Hasanuddin University Press, 1999


5 Sewang, Ahmad, Prof. DR. H. MA, Makalah “Empat Abad Islam di Sulawesi Selatan”, Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan, Pusat Kajian Islam Divisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar, 5-7 September 20007


6 H.A. Massiara Dg. Rapi, Menyingkap Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan (hal. 55-62), Lembaga Penelitian dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan TOMANURUNG, 1988.


Kerajaan Gowa-Tallo 

[Ekspedisi Islam Oleh Serambi Madinah dari Timur – Bagian II]


Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa-Tallo di seluruh Sulawesi Selatan, bahkan sampai kebagian timur Nusantara, telah memberikan pengaruh dan perubahan terhadap kehidupan sosial-masyarakat yang meliputi segala bidang; baik aspek politik, pemerintahan, ekonomi maupun sosial-budaya. Tentu perubahan ini mengarah pada islamisasi segala aspek kehidupan tersebut. Karena begitu kuatnya pengaruh Islam yang dikembangkan oleh para mubalig dengan dukungan para raja-raja yang telah memeluk Islam, maka rakyat kerajaan berbondong-bondong memeluk Islam tanpa dipaksa ataupun diancam.


Ini bisa kita lihat dari bagaimana proses islamisasi di Sulawesi Selatan yang dimulai pada abad ke-17 ini dapat mengubah sendi-sendi “Pangngadakkan (Makassar) atau Pangngaderreng (Bugis) yang menyebabkan pranata-pranata kehidupan sosial-budaya orang Makassar dan Bugis, Mandar dan lain-lain memperoleh warna baru, karena sara’ (syariah) telah masuk pula menjadi salah satu dari sendi-sendi adat-istiadat itu.


Pangadakkang/Pangngaderreng adalah sistem pranata sosial yang berisi kitab undang-undang dasar tertinggi orang Bugis/Makassar.1 Sistem pranata sosial ini sudah lama mengakar dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Bugis/Makassar. Sebelum Islam datang Pangngadakkan ini terdiri 4 sendi yaitu: Ade’ (Adat istiadat), Rapang (Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan), Wari’ (Sitem protokoler kerajaan), dan Bicara (Sistem hukum). Kemudian bertambah satu sendi lagi, yakni Sara’ (syariah Islam) setelah Islam resmi diterima sebagai agama kerajaan.2


Dalam praktiknya, 4 (empat) dari yang pertama dipegang oleh Pampawa Ade’ (Pelaksana Adat), yaitu Raja dan Pembantu-pembatunya; yang kelima dipegang oleh Parewa Sara’ (perangkat Syariat) dipimpin oleh Ulama, Imam, Kadi (Qodhi), dan para pembantunya. Kedua lembaga ini memiliki fungsi dan tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing dan memiliki kekuasaan otonomi tersendiri. Pemimpin tertinggi Pampawa Ade’ adalah Raja yang khusus menangani pemerintahan. Pemimpin tertinggi Parewa sara’ adalah ulama yang menagani hal-hal yang berhubungan dengan syariah Islam. Adanya dikotomi tugas ini berimplikasi pada sistem pengaturan sosial selanjutnya, tetapi tidak berarti terjadi sekularisasi antara urusan Kerajaan dan keagamaan (bukan pemisahan negara dengan Islam, pen.). Sebab, dalam praktiknya, keduanya saling mengisi atau beriringan; namun adat tetap tunduk pada ajaran (syariah) Islam. Yang terjadi kemudian adalah syariah Islam tetap bertoleransi pada adat sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan syariah Islam. Karena syariah Islam telah masuk ke dalam sistem Pangngadakkan/Pangngaderreng, maka wibawa dan kepatuhan rakyat pada Islam dan adat sama kuatnya.3


Syariah Islam di Bidang Sosial-Kemasyaraktan


Beberapa contoh penerapan syariah Islam dalam undang-undang Pangngadakkan/Pangngaderreng dapat dilihat di antaranya:


1. Perzinaan.


Wanita atau pria yang berzina setelah menikah, yang dalam Islam dirajam, kemudian diterjemahkan dalam bentuk dicemplungkan hidup-hidup ke dasar laut.4 Jika yang bezina adalah pria atau wanita lajang maka dia dihukum cambuk.5


2. Kawin Lari (Silariang [Makassar]).


Jika sepasang muda-mudi kawin lari (silariang) atau kabur, jika tiba di rumah Imam (Abballa’ imang/mabbola imang), ia akan dilindungi dari kejaran to masiri’na (mahram) demi menghargai otonomi Imam yang akan menikahkan mereka menurut syariah Islam. Jika ditemukan di luar rumah Imam, to masiri’na berhak menghukumnya sesuai dengan ketentuan adat karena berada di wilayah otonomi adat.6


3. Wanita dalam menerima tamu, safar dan berpakain.


Terkait dengan para penjaga wanita Bugis-Makassar, istilah mahram diterjemahkan to masiri’na7 (diadopsi dari budaya siri’) yang berfungsi menjaga dan melindungi nama dan harkat perempuan. Itulah sebabnya jika tidak ada to masiri’na di dalam rumah, wanita dilarang menerima tamu laki-laki. Begitu pula jika bepergian, dia harus dikawal oleh to masiri’na (mahram) dan juga selalu menggunakan dua sarung, satu diikat dipinggang (appalikang [Makassar]) dan satunya lagi dipakai menutup kepala (berkerudung) atau “abbongong (Makassar)”. Begitu juga dalam pakain adat Gowa, sebelum Islam, sudah dikenal pakain Baju Bodo (baju yang lengannya pendek), lalu setelah Islam menjadi agama Kerajaan Gowa, maka baju Bodo diganti menjadi Baju Labbu. Demikian seperti dituturkan oleh Andi Kumala Idjo, SH selaku putra mahkota pewaris tahta Kerajaan Gowa sekarang ini, yang menggantikan Raja Gowa ke-36 Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang (1946-1960).8 [Gus Uwik]


Catatan kaki:


1 DR. Nurhayati Rahman, M.Hum, Makalah “Syariat Islam dan Sitem Pangngaderreng”, Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan, Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar, 5-8 September 2007


2 Idem.


3 Idem.


4 Idem.


5 Andi Kumala Idjo, SH. “Wawancara”, LF HTI Gowa, Desember 2007.


6 DR. Nurhayati Rahman, M.UmH, Makalah “Syariat Islam dan Sitem Pangngaderreng”, Seminar Internasional dan Festival Kebudayaan, Pusat Kajian Islam (Centre For Middle Eastern Studies) Devisi Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora PKP Unhas dan Pemkot Makassar, 5-8 September 2007.


7 Idem.


8 Andi Kumala Idjo, SH. “Wawancara”, LF HTI Gowa, Desember 2007.

Rabu, 18 Mei 2022

π™†π™šπ™’π™—π™–π™‘π™ž Kπ™šπ™₯𝙖𝙙𝙖 π˜Όπ™‘π™‘π™–π™



π‘¨π’”π’”π’‚π’π’‚π’Žπ’–π’‚π’π’‚π’Šπ’Œπ’–π’Ž π’˜π’‚π’“π’‚π’‰π’Žπ’‚π’•π’–π’π’π’‚π’‰π’Š π’˜π’‚π’ƒπ’‚π’“π’“π’‚π’Œπ’‚π’•π’–πŸŒΉ

𝙾𝙻𝙴𝙷: π™½πš„πš π™΅π™°πšπ™Έπ™³π™°π™·


Kehidupan dunia sejatinya adalah perjalanan manusia menuju atau kembali kepada Allah, asalnya. Namun, manusia sering kali lupa diri dan tujuannya karena tergoda nikmatnya kehidupan dan gemerlapnya dunia. Oleh karena itu, Allah mengingatkan dalam Alquran, "Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya." (QS az-Zumar [39]: 54).


Manusia tidak tahu ia akan dilahirkan di mana atau siapa yang melahirkannya. Tapi, ada fitrah dalam dirinya yang telah ditetapkan Allah. Bahwa ia hidup untuk tujuan tertentu dan oleh karena itu ia akan melewati sebuah jalan ke arah itu. Ada kesadaran dalam dirinya tentang Allah, Sang Pencipta. 


Tapi, kehidupan dunia kerap membuatnya lupa segalanya. Ia lupa dari mana berasal dan akan ke mana ia berjalan.


Allah dan Rasulullah mengingatkan dan menegaskan, manusia pada hakikatnya tengah berjalan menuju Allah. Dunia, menurut Rasulullah, sekadar tempat berteduh, persinggahan sementara,


 sebelum lanjut ke tujuan akhir: Allah. Rasulullah bersabda, "Bagaimana aku bisa mencintai dunia? Sementara aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari tempat teduh di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu meninggalkannya." (HR at-Tirmidzi)


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Dikisahkan, Jabir bin Abdullah pernah bersama Rasulullah. Tiba-tiba, datang laki-laki berwajah cerah, berambut rapi, berpakaian serbaputih. Kemudian, ia berkata kepada Rasulullah, "Salam, wahai Rasulullah. Apakah arti dunia ini?" Beliau menjawab, "Seperti impian orang yang tidur."

Ia bertanya lagi, "Apakah surga itu?" Beliau menjawab, "Sebagai ganti dunia bagi mereka yang mencarinya." Ia kembali bertanya, "Siapa sebaik-baik manusia?" Beliau menjawab, "Orang yang menaati Allah."

Ia bertanya lagi, Bagaimana sikap yang baik di dunia ini? Beliau menjawab,

 "Berkemas-kemaslah seperti orang yang mengejar kafilah". Ia bertanya lagi, "Berapa jarak antara dunia dan akhirat?" Beliau menjawab, "Sekejap mata." Setelah itu, ia pun pergi dan tidak kelihatan lagi. Rasulullah bersabda kepada para sahabat, "Laki-laki itu adalah Jibril. Ia datang untuk menjauhkanmu dari dunia dan mencintai akhirat." (HR al-Hakim).


Allah adalah tujuan sesungguhnya perjalanan manusia. Kesadaran ini akan menjadikan perjalanan manusia lebih berarti dengan banyak beribadah dan beramal saleh. Berarti tidak hanya bagi dirinya, tapi juga orang lain. Ia akan berjalan di muka bumi dengan menebarkan kebaikan kepada apa pun.

Bahkan, kepada orang yang berbuat jahat atau ingin mencelakakannya. Seluruh anggota badannya didedikasikan untuk kebaikan karena itulah yang akan dipersembahkan kepada Allah ketika ia bertemu dengan-Nya.


Tak ada manusia yang sempurna. Dalam perjalanan di dunia akan ada kesalahan dan kekeliruan. Tapi, seperti kata Nabi, sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertobat dan memperbaiki diri. Selain itu, Allah juga Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Dia juga Maha Penyayang. Dia akan selalu menyeru hamba-Nya, mengingatkannya untuk kembali kepada-Nya dengan jiwa yang tenang, "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. 


Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS al-Fajr [89]: 27-30).

Imam Hasan al-Bashri mengatakan, "Kembalilah kamu kepada balasan Tuhanmu dan kepada pemuliaan-Nya dalam keadaan ridha dengan apa yang Allah sediakan untukmu dan Allah pun ridha terhadap dirimu.


Imam al-Baghawi dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, Wahai jiwa yang tenang terhadap dunia, kembalilah kepada Allah dengan meninggalkan dunia tersebut. 


✍️π™˜π™–π™©π™–π™©π™–π™£ :


Kembali kepada Allah dengan menempuh jalan menuju akhirat. Kembali kepada Allah bukan sekadar pulang tanpa membawa apa-apa, melainkan kembali dengan bekal amal saleh di dunia. 


Wassalam πŸ™


Wallahu a'lam

GAYA BUSANA WANITA BUTON DI NEGERI KHALIFATUL KHAMIS

 


*Oleh: Wahyudi al Maroky*

_(Dir. PAMONG Institute)_


Dalam masalah pakaian, masyarakat Buton memiliki budaya yang khas. Budaya itu tumbuh dan berkembang sesuai zamannya. Sejak zaman kerajaan, zaman Kesultanan, hingga zaman 'now'. Gaya busana mereka pun terus berkembang hingga kini.


Meski mengikuti perkembangan zaman dalam berbusana, namun mereka tetap memegang teguh prinsip-prinsp syariah islam. Mereka sangat menjaga agar dalam berpakaian yang utama adalah menutup aurat. Selebihnya mereka bisa berkreasi mengikuti trend busana yang berkembang. 


Bagi masyarakat Buton yang berjuluk Negeri Khalifatul Khamis, ISLAM memang sudah mendarah daging dalam kehidupan. Bahkan sudah menjadi nafas hidup mereka. Islam bukan hanya sekedar dalam masalah ibadah ritual dan moral, tapi berbagai aspek kehidupan mereka mengikuti ajaran islam. Termasuk dalam tata cara berpakaian, khususnya bagi wanita untuk menutup aurat.


Terkait dengan gaya berpakaian ini, setidaknya ada tiga hal penting yang menarik dibahas:


PERTAMA; Pakaian bagi laki-laki buton tidak dibahas lebih jauh. Ini dikarenakan umumnya pakaian mereka sudah sesuai syariah. Bagi laki-laki, aurat itu hanya sebatas pusar hingga lutut. Sedangkan para lelaki buton umumnya sudah memenuhi standar ini.


KEDUA; Pakaian bagi wanita Buton ada penyesuaian. Ini dikarenakan batasan aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Mereka berpegang teguh pada hadits Nabi Muhammad SAW, “Wanita itu aurat” (HR. at Thabrani). Dan gaya berpakaian seperti ini sudah menjadi tradisi masyarakat buton.


Menurut Budayawan Buton, Dr La Ode Abdul Munafi mengisahkan, dulu bila neneknya kalau keluar rumah, minimal mengenakan tiga lapis sarung. Masing-masing, BAWAHAN, ATASAN, terakhir SALIBUMBU (penutup kepala) semacam kerudung. Jadi kalau keluar rumah, hanya wajah yang nampak. Saat berjalan Salibumbunya dipegang.


Busana tersebut lazim digunakan wanita Buton jika keluar rumah. Bukan hanya jika ada perayaan tertentu. Intinya setiap wanita keluar rumah harus berpakaian lengkap dan menutup aurat. 


KETIGA; Salibumbu adalah penutup kepala semacam kerudung. Ini yang membedakan mereka dengan yang lain. Salibumbu yang merupakan bagian penutup kepala bagi wanita buton ini terus mengalami perkembangan. Zaman now, wanita Buton sudah jarang mengenakan Salibumbu. Mereka punya kreasi sendiri, kini sudah dimodifikasi menjadi, bagian bawahan dengan sarung Buton, dan kerudung untuk bagian atasnya. 


Seiring perkembangan zaman dan mode busana, para wanita Buton pun terus berkreasi dalam pakaian mereka. Walaupun dimodifikasi, esensinya tetap sama, yakni menutup aurat. Kendati mengalami pergeseran, tapi tetap memiliki akar budaya dalam tradisi Buton.


Sementara menurut Kadis Pariwisata Wakatobi, Drs Nadar mengungkapkan di Tomia hingga kini wanitanya masih ada yang memengang tradisi itu. Mereka mengenakan baju, menutup aurat yang lahir dari tradisi Buton. Bahan dasarnya terbuat dari sarung Buton. 


Ada berbagai jenis pakaian khas masyarakat buton. Untuk acara adat (Kombo Wolio), acara umum (Hebhalu-bhalu Tungka), pakaian kerja di kebun dan meluat (Kampuru Turumba), dan momen santai (Heolu Gima). 


Tradisi menutup aurat juga dilakukan para wanita di berbagai gugus pulau di wilayah Buton Bila di Tomia untuk menutup kepala disebut dengan Hebhalu-bhalu tungka, di Wangiwangi (Tutu Bhalu), di Kaledupa (Bhalubhalu), dan di Binongko (Kampuru ofuta).


Sedangkan pakaian sarung yang diikatkan di badan, Wangiwangi (Kumbaea), Kaledupa (Kombongkombo), Tomia (Olugima), dan Binongko (Gima). Penggunaan pakaian tersebut kerap menjadi salah satu konten agenda pariwisata di Kabupaten Wakatobi.


Gaya berpakaian masyarakat Buton, terus berkembang sesuai kemajuan zaman. Sejak dikenal dengan julukan Negeri Khalifatul Khamis, kehidupan masyarakat Buton sangat dipengaruhi oleh tradisi kehilafahan islam. 


Tradisi pakaian wanita buton ini menjadi unik karena berbeda dengan gaya busana pada umumnya. Oleh karenanya tradisi ini semestinya dilestarikan dan dikembangkan. Tabiik.


(disarikan dari Buku NEGERI KHALIFATUL KHAMIS, Terbitan WADIpres tahun 2019, yang ditulis oleh Irwansyah Amunu & almaroky) 



NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

MELURUSKAN PERSEPSI TENTANG PERJUANGAN MENEGAKKAN KHILAFAH

 Kudeta?! 


*MELURUSKAN PERSEPSI TENTANG PERJUANGAN MENEGAKKAN KHILAFAH*



Oleh : Nasrudin Joha 


Saya ingin meluruskan pemahaman sebagian kecil kalangan, yang punya persepsi keliru tentang perjuangan menegakkan Khilafah. Misalnya, ada yang mendorong perjuangan Khilafah melalui sistem demokrasi dengan ikut Pemilu, mengajak melakukan People Power untuk menegakkan Khilafah, atau bahkan menuding Khilafah ditegakkan dengan jalan kudeta.


Memang benar, jalan perubahan yang umumnya diketahui khalayak itu ada tiga : Pemilu, People Power dan Kudeta.


Dengan ikut Pemilu, logika yang ditawarkan kuasai parlemen, terapkan UU islami, maka demi hukum Islam (Khilafah) bisa ditegakkan. Melalui gerakan rakyat, diharapkan dapat menekan kekuasaan dan jatuh, selanjutnya tegakkan hukum Islam (khilafah) diatas puing-puing kejatuhan kekuasaan zalim. Melalui kudeta, militer yang mengambil alih paksa kekuasaan dan setelah itu ditegakkan hukum Islam (Khilafah).


Sebenarnya, ada satu lagi metode perubahan. Yakni, melalui jalan pemberontakan. Yakni, mempersenjatai rakyat untuk melawan penguasa dan menjatuhkannya. Setelah itu, ditegakkan hukum Islam (Khilafah).


Khilafah yang selama ini saya tawarkan dan kita diskusikan, bukanlah Khilafah yang ditegakkan dengan demokrasi pemilu, people power, kudeta atau pemberontakan. Itu semua, bukan metode menegakkan Khilafah. Itu semua, bukan ajaran Islam untuk menegakkan hukum Islam.


Selama ini, banyak yang disesatkan pikirannya dengan membuat tudingan Khilafah itu diraih dengan Kudeta, dengan People Power, dengan Pemberontakan. Kadang juga merayu dan menyesatkan, agar pejuang Khilafah mengambil jalan demokrasi untuk mencapai tujuan Khilafah.


Saya tegaskan, untuk memperjuangkan Khilafah sebagai ajaran Islam, wajib terikat dengan Islam. Khilafah, hanya dapat ditegakkan dengan jalan dakwah, bukan yang lainnya.


Dakwah yang bagaimana ? Tentu saja bukan dakwah yang berorientasi pada akhlak, kemanusiaan, kebajikan, dengan mendirikan pondok pesantren, lembaga pendidikan, memperbanyak hafidz Qur'an, dan seterusnya. Semua itu dakwah Islam, tapi bukan yang digunakan untuk menegakkan Khilafah.


Dakwah yang dimaksud adalah dakwah pemikiran dan politik, tanpa kekerasan. Pemikiran yang menggambarkan secara tuntas, bagaimana umat Islam wajib berhukum dengan hukum Allah SWT. Politik yang mewajibkan umat ini, mengurusi seluruh urusannya dengan syariat Islam.


Dakwah pemikiran yang merontokkan sistem dan pemikiran kufur, dan mengintegrasikan ideologi Islam dalam kehidupan. Dakwah politik, yang menyadarkan bahwa demokrasi, berikut seluruh sistem politiknya adalah sistem kufur.


Dakwah, yang menjelaskan bagaimana Islam mengatur kehidupan pribadi, masyarakat dan negara. Dakwah yang menjelaskan bagaimana Khilafah ditegakkan, melalui baiat kepada seorang Khalifah, adopsi konstitusi dan perundangan, serta penerapan Islam secara revolusioner dalam seluruh dimensi kehidupan.


Dakwah, yang menyadarkan umat agar benci dan merasa jijik diatur dengan sistem dan pemikiran kufur. Sekaligus, dakwah yang membuat umat rindu dan menuntut diatur dengan hukum Allah SWT.


Dakwah yang menyadarkan umat dan orang yang memiliki kekuasaan, atas dasar kesadaran, secara bersama-sama menanggalkan sistem kufur demokrasi, dan secara bersama-sama pula meminta untuk diganti dengan sistem Islam.


Dakwah, sebagaimana dakwah Rasulullah Saw ketika di Makkah, sampai Rasulullah Saw mendapatkan pertolongan di Madinah, hingga tegaknya Daulah Islam yang pertama. Itulah, dakwah pemikiran dan politik yang dilakukan untuk menegakkan Khilafah, bukan dengan cara yang lain. [].

HIDUP DI DUNIA INI HANYA SEBENTAR

 


By Abulwafa Romli 


Bismillaahir Rohmaanir Rohiim


Nasehat dari teman yang sangat berharga bagiku. Nasehat ini juga kupersembahkan kepada teman-temanku :


Waktu Manusia Didunia Berdasarkan Al Qur'an sebagai sumber kebenaran :


1 hari akhirat = 1000 tahun.

24 jam akhirat = 1000 tahun.

3 jam akhirat = 125 tahun.

1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.


Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja.


Pantaslah kita selalu diingatkan masalah WAKTU. Ternyata hanya satu setengah jam saja yang akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka. (Taddaburi: QS.35:15, 4:170).


Cuma satu setengah jam saja cobaan hidup, maka bersabarlah.. (Taddaburi QS.74:7,52:48,39:10).


Demikian juga hanya satu setengah jam saja kita harus menahan nafsu dan mengganti dgn sunnahNya (Taddaburi : QS.12:53, 33:38).


"Satu Setengah Jam" sebuah perjuangan yg teramat singkat dan Allah akan mengganti dengan surga Ridha Allah (Taddaburi : QS.9:72, 98:8, 4:114).


Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti (Taddaburi : QS.59:18, 42:20, 3:148, 28:77).


Allah berfirman: " Kamu tidak tinggal ( dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui" (QS.23:114)


Kematian itu pasti datangnya. Yang tak pasti ialah taubatnya. Hati-hati dalam berucap dan bergaul, sungguh yang di hitung dan ditanya ketika di alam kubur hanyalah amal kebaikan jadikanlah dirimu bermanfaat untuk orang lain..


Dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda, "Khairunnas anfa’uhum linnas", yang artinya, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim).


Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk meniti perjalanan hidup ini.......

Aamiin

NASEHAT KEPADA KAUM ASWAJA

 


By Abulwafa Romli 


Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Assalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh


9 Butir Nasihat Bagi Kaum Aswaja :


1. Kita harus memposisikan Hizbut Tahrir pada posisi sebenarnya, yaitu sebagai partai politik Islam ideologis, tidak sebagai organisasi keagamaan seperti halnya NU, Persis dan Muhammadiyyah. Dan karena Hizbut Tahrir adalah partai politik, maka wargaNU, Persis dan Muhammadiyyah bisa menjadi anggotanya, sebagaimana menjadi anggota dari partai politik yang lain.


2. Kita harus membandingkan Hizbut Tahrir sebagai partai politik dengan partai politik juga, seperti dengan PKB, PKNU, PDIP, GOLKAR, PKS dll., tidak dengan organisasi keagamaan seperti NU, Persis dan Muhammadiyyah. Dengan demikian kita akan mengerti bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik Islam yang paling lurus dan berada di atas jalan yang lurus, dan kita akan mengerti kenapa para oknum kiai NU melarang warga NU ikut Hizbut Tahrir dan tidak melarang ikut PDIP, Golkar dll.


3. Kita tidak boleh membenturkan Hizbut Tahrir sebagai partai politik dengan NU, Persis atau Muhammadiyyah sebagai organisasi keagamaan, sebab kalau ini terjadi, maka akan terjadi kezaliman, yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, karena akan terjadi menempatkan Hizbut Tahrir di tempat organisasi, dan menempatkan organisasi di tempat partai politik.


4. Dalam mengkaji berbagai pendapat Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir-nya, kita harus kembali kepada dalil-dalilnya yang telah disepakati oleh para ulama Aswaja (yaitu al-Qur’an, al-Sunnah, al-Ijmak dan al-Qiyas), baik naqli maupun aqli, dan kepada ushul fiqihnya, tidak kepada murni pendapatnya.


5. Kalau kita melihat sejumlah perbedaan di antara pendapat Syaikh Taqiyyuddin dan Hizbut Tahrir-nya dengan pendapat para ulama mujtahid yang lain, maka tidak boleh menyalahkan dan menyesatkannya selagi masih pendapat islami yang digali dari dalil-dalilnya seperti pada butir ke 4, karena kalau kita menyalahkan dan menyesatkannya hanya karena tidak sama dengan pendapat ulama yang lain, maka semua pendapat ulama yang lain juga salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat ulama sebelumnya. Pendapat imam Malik bin Anas salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat imam Abu Hanifah, pendapat imam Syafi’iy juga salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat imam Malik, pendapat imam Ahmad bin Hanbal juga salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat imam Syafi’iy, pendapat imam Dawud al-Dhahiri juga salah dan sesat, karena berbeda dengan pendapat imam Ahmad, dan seterusnya. Maka harus kembali kepada dalil-dalilnya, islami apa tidak, dan disepakati apa tidak. Sedang cara istinbat boleh berbeda sesuai kedalaman ilmu dan kecerdasan akalnya.


6. Kalau kita tidak bisa menarjih di antara berbagai pendapat para ulama mujtahid karena tidak menguasai al-Qur’an, tafsir dan ilmu al-Qur’annya; hadis, syarah dan ilmu hadisnya; fiqih dan ushul fiqihnya; nahwu, sharaf balaghah dan ma’aninya, maka kita harus bersikap seperti halnya Syaikh Abdul Wahab al-Sya’roni dalam kitab Mizan Kubro-nya bahwa semua pendapat ulama mujtahid itu benar dan menuntun ke surga, meskipun saling berbeda, dan meskipun yang harus kita tabanni untuk dipraktekkan hanya satu pendapat.


7. Kalau kita ingin mengerti kakekat (substansi) Ahlussunnah Waljama’ah dalam terminologi syariat, maka harus kembali kepada dalil-dalil syariatnya (seperti telah saya kemukakan pada buku Nasihat Untuk Himasal dll, juga telah menjadi catatan fb saya), tidak kembali kepada qiila wa qaala (dikatakan begini dan katanya begitu). Hal ini harus dilakukan supaya kita tidak buruk sangka kepada sesama muslim dan sesama Aswaja, dan tidak mudah ditipu dan disesatkan oleh orang-orang yang selama ini suka mengklaim Aswaja, padahal hakekatnya mereka bukan Aswaja, karena hakekat Aswaja adalah ahli surga, sedang merekayasa, berdusta, memitnah dan memprovokasi yang diperankan oleh mereka adalah perangai ahli neraka.


8. Kita harus memahami bahwa yang sedang dihadapi oleh Hizbut Tahrir adalah kekuatan ideologi kapitalisme beserta seperangkat pemikiran dan sistemnya, yaitu akidah sekularisme beserta seperangkat syariatnya, bukan organisasi seperti NU, Persis dan Muhammadiyyah. Kalau kita membenci Syi’ah, Khawarij, Jabariyyah dan Muktazilah, maka kita harus lebih membenci ideologi kapitalisme, karena ideologi inilah yang sekarang sedang mencengkeram dan merusak akidah, syariat dan moral kaum muslim. Bahkan pada hari selasa (29/11/2011) saya menyaksikan berita dari MHTV bahwa pada tahun ini (2011) Jawa Timur yang terkenal dengan negeri para kyainya telah menduduki peringkat pertama dari seluruh propinsi wilayah NKRI yang warganya terjangjit HIV/AIDS. Ini menunjukkan bahwa negeri para kyai telah menjadi negeri seks bebas. Lalu kenapa malah yang diuber-uber oleh para oknum kyai justru Hizbut Tahrir, bukan kapitalisme dengan seperangkat pemikiran dan sistemnya yang nyata-nyata menjadi penyebab dekadensi moral kaum muslim?


9. Kalau kita sebagai ulama dan kyai sudah tidak mampu mendidik umat dan santrinya agar terikat dengan syariat Islam, maka solusinya mudah, yaitu libatkan Hizbut Tahrir dalam mendidik mereka, karena telah terbukti bahwa di sana terdapat ribuan orang non muslim telah menjadi muslim, ribuan perempuan yang biasa membuka dan mempertontonkan auratnya telah menutup rapat-rapat auratnya, ribuan orang yang membenci Islam telah menjadi pejuang Islam, ribuan orang yang keblinger telah menjadi bener, dan seterusnya. Dan Hizbut Tahrir tidak akan menggeser posisi kalian, kalian tetap menjadi ulama dan kyai, bahkan posisi kalian akan lebih kokoh.


Anda setuju, tinggalkan jejak dan sebarluaskan!