Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Sastrawan Politik
Saat Bani Israil terutama para rahib mereka mendengar kabar datangnya Rasulullah Muhammad Saw, mereka semua melihat semua ciri Nabi akhir zaman ada pada diri Nabi Saw. Tidak ada satupun dari bukti kenabian yang mereka tolak, namun karena Nabi Muhammad Saw bukan dari kalangan mereka, bukan dari Bani Israil, akhirnya Nabi Muhammad Saw tertolak.
Sikap Bani Israil ini tidak didasari rasa Iman dan logika akal sehat, melainkan karena kesombongan dan rasa bangga pada kaumnya. Keimanan mereka membimbing pada keyakinan akan datangnya Nabi akhir zaman, logika mereka mengindera semua ciri kenabian ada pada Muhammad Saw.
Namun, karena ego kebangsaan, khawatir kehilangan jamaah, kehilangan status kepemimpinan, mereka menutupi keimanan mereka dan membutakan logika. Mereka, membabi-buta menolak Muhammad Saw dan menjerumuskan kaumnya.
Hari ini, janganlah kita mengikuti sikap Bani Israil itu dalam urusan Khilafah. Siapapun, yang beriman kepada Allah SWT pasti meyakini hukum Allah SWT wajib ditegakkan.
Siapapun yang mengetahui ilmu agama, fiqh Islam, sejarah Islam, dan terutama rujukan dalil tentang kewajiban Khilafah tidak akan mampu menolak Khilafah adalah ajaran Islam. Siapapun yang meyakini nubuwah kembalinya Khilafah, dan mengindera secara pasti kerusakan negeri ini dan negeri kaum muslimin lainnya, pastilah sudah dapat menyimpulkan semua karena hukum Allah SWT tidak ditegakkan.
Semua meyakini Khilafah akan kembali, logika sehat juga tak mampu menolak konsekuensi kebangkitan Khilafah yang akan menggantikan ideologi kapitalisme liberal yang sudah sempoyongan.
Namun, begitu yang memperjuangkan Khilafah adalah HTI, bukan kelompok sendiri, bukan organisasi sendiri, bukan dari mahzab sendiri, mungkinkah penyakit hati yang menghinggapi bani Israil menghinggapi ulama-ulama era kini ? Mereka tidak menolak Khilafah, tetapi mereka mempersoalkan kenapa HTI yang mengusungnya ?
Mereka khawatir kehilangan jama'ah ? kehilangan kepemimpinan ditengah-tengah umat ? khawatir kemuliaannya hilang dan khawatir akan ditinggalkan umat ?
Padahal, semestinya mereka mengambil sikap seperti yang ditempuh kaum Anshar. Kaum Anshar menyongsong kemuliaan bersama kaum Muhajirin, bahkan menyerahkan urusan kekuasaan kepada kaum Muhajirin karena keutamaan mereka.
Saat perdebatan pengganti Rasulullah Saw, kaum Anshar akhirnya menyepakati membaiat sahabat Abu Bakar RA dari kaum Muhajirin, karena mereka menyadari urusan agama ini awalnya dari kaum Muhajirin. Kaum Anshar begitu ikhlas melepaskan hak kekuasaan, semata demi mengharapkan ridho Allah SWT.
Bukankah hari ini, sebaiknya kita mengambil sikap seperti yang ditempuh kaum Anshar ? bukan malah bersikap seperti Yahudi Bani Israil yang menolak dakwah Rasulullah Saw.
Hari ini, kita harus memberikan dukungan dan pembelaan kepada perjuangan Islam dan khilafah, siapapun yang mengusungnya. Kita tidak perlu khawatir kehilangan kewibawaan, jamaah, apalagi kemuliaan. Karena letak kemuliaan itu ada pada ketaqwaan. [].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar